Keindahan suatu hubungan antar manusia, adalah ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang membuat kita merasa hidup ini tidak sendirian. Dimana kita bisa membagi cerita suka dan duka, mengerjakan hal yang disenangi, meminta pendapat dan memberi pendapat yang dibutuhkan, serta bersedia memberi dan menerima kritikan tentang prilaku yang kita perbuat.
Di antara sekian banyak orang yang berada dalam lingkup kehidupan kita, bisa dipilah-pilah dengan banyak “nama”. Contohnya teman hidup bersama (kost), teman berumah tangga (pasangan nikah), teman di lingkup keluarga, lingkup sekolah, lingkup kerja, lingkup tempat tinggal, dan lingkup tempat ibadah, serta lingkup perkumpulan (organisasi).
Hidup dengan banyak karakter yang berlatar belakang pendidikan, suku, agama yang berbeda, tentu saja membutuhkan kiat-kiat untuk tetap bisa hidup dalam kerukunan. Tetapi kita harus sadar, bahwa dari sekian karakter ‘baik’, banyak pula karaktek yang ‘buruk’! Dan anehnya setiap orang punya kriteria sendiri-sendiri, buruk untuk si A, belum tentu buruk untuk pihak lainnya.
Jangankan di dunia nyata, di dunia maya saja, banyak banget yang demikian “indah” kelakuannya. Jika kita terlibas dengan hal-hal yang membuat kita geram dan sedih, pasti umur kita tidak lama atau paling hidup dengan penyakitan. Karena menurut banyak penelitian, orang yang selalu ‘termakan’ oleh situasi perasaannya, membuat tubuhnya jadi “pabrik” penyakit!
Dalam buku “Si Penghisap Energi” karangan Shaun Blankeney & Wallace Hanley, diterbitkan dalam bahasa Indonesia, membahas bagaimana cara mengenali berbagai jenis orang “sulit” dan cara menghadapinya. Menilik judulnya, kita bisa meraba apa yang dimaksud dengan ‘Penghisap Energi’. Yaitu orang-orang yang membuat kita kadang sampai sesak nafas kehabisan energi ketika menerima imbas dari kelakuan yang dibuatnya. Salah satu contoh seperti yang dilukiskan pada sampul buku tersebut. Foto yang mengambarkan seseorang sedang asyik ngobrol ditelepon dengan wajah gembira, tanpa memedulikan antrian orang lain yang berdesakan menunggu giliran dapat gagang telepon umum tersebut.
Ada 21 tipe orang sulit yang dibahas dalam buku tersebut. Namun, saya akan mempersempit menjadi tiga tipe yang paling sering kita temui dalam keseharian, yaitu tipe pemarah, tipe pembuat sebal (dongkol), dan tipe pembohong. Menurut saya, tiga tipe ini sudah mampu membuat kita menjadi frustasi, depresi, dan sulit bernafas.
Tidak mudah memang menghadapi tipe orang sulit ini. Misalnya seperti contoh ilustrasi di sampul buku tersebut. Jika kita proyeksikan dalam kehidupan nyata, dimana kita berani menegur orang yang tidak perduli pada keadaan orang lain, ada dua kemungkinan yang bisa kita hadapi. Pertama, bertengkar karena orang tersebut merasa ‘tidak’ salah dan mempertahankan kebenaran versi dirinya. Kedua, kita akan menahan geram karena dia tidak perduli dengan segala teguran kita.
Continue reading »