Tag

, ,

Kasus kekerasan berlatar belakang SARA berulang terjadi di tanah air akhir-akhir ini. Dimulai dari penyerangan Jemaah Ahmadiah di Cikeusik, berlanjut kasus kekerasan di Temanggung Jawa Tengah dan yang terbaru adalah peristiwa penyerangan sebuah pondok pesantren di Pasuruan, Jawa Timur. Sungguh suatu hal yang sangat memprihatinkan mengingat peristiwa tersebut harus terjadi di negara Indonesia yang mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, tanpa mengurangi keprihatinan saya karena ketiga peristiwa di atas, mari sejenak kita rehat dari segala hiruk-pikuk yang ada sambil membaca sebuah artikel milik M. Sholekhudin. Isi (judulnya juga) yang asli saya copy paste dengan sedikit mengedit sana-sini dari majalah Intisari edisi bulan April 2005. Majalah edisi lama memang. Tetapi saya pikir tidak ada salahnya kalau saya mengposting ke Blog saya

Sesuai judulnya, artikel ini berisi humor di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Menurut saya, tidak ada istilah kadaluarsa dalam humor. Barangkali ada beberapa istilah yang tidak atau kurang dimengerti oleh pembaca, mohon dimaafkan. Ini disebabkan terbatasnya prasarana alias interuptus (internet terputus-putus) sehingga browsing untuk melengkapi artikel ini kurang oke, hidup segan mati tak mau.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mencantumkan catatan khusus di akhir artikel untuk penjelasan beberapa kosa kata dimaksud. Mohon agar KoKier ikhlas meminta tolong pada Mas Google untuk menjelaskan vocab atau nama-nama tokoh yang belum terlalu dikenal yang disebut namanya di artikel ini.

Sekedar catatan: warga NU kebanyakan dari desa yang sederhana, polos, dan apa adanya. “Umumnya, warga NU orang desa. Jadi, hidup mereka santai. Kalau ketemu, ya, guyon,” ujar Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).

Seminar NU

Alkisah, di sebuah pesantren di Jawa Timur, diadakan seminar dengan pembicara KH. Sahal Mahfudz dari Pati. Bagi para santri yang setiap hari membaca Kitab Kuning , kata “seminar” masih sangat asing di telinga. Maklum, itu merupakan seminar pertama bagi mereka.

Selesai seminar, Kyai Sahal segera undur diri untuk sebuah keperluan. Karena suatu halangan, sang Kyai yang menjadi tuan rumah tidak ikut menghadiri seminar. Ketika pulang, ia bertanya kepada santrinya:

“Bagaimana seminarnya?”

“Seminarnya sudah pulang, Kyai, sudah saya antar,” jawab si santri dengan lugunya.

Titip Hikam

Suatu kali (alm) Gus Dur berkunjung ke sebuah pesantren di Probolinggo. Ia datang bersama A.S. Hikam. Kisah ini terjadi sebelum Gus Dur menjadi presiden. Selesai ceramah, Gus Dur pamit kepada kyai tuan rumah untuk meneruskan kunjungannya ke pesantren berikutnya. Sambil pamit, Gus Dur bilang, “Aku titip Hikam di sini.”

Waktu itu, A.S. Hikam belum terkenal. Sang Kyai menyangka “Hikam” adalah nama sebuah kitab. Ia pun mengiyakan begitu saja pesan Gus Dur. Begitu Gus Dur pergi, sang kyai segera mencari “kitab” itu. Dicari-cari tak juga ketemu. Akhirnya, ia mengerahkan para santri untuk mencari dimana gerangan “kitab” itu diletakkan. Kekonyolan itu baru berakhir setelah ia diberitahu oleh seorang santri yang kebetulan telah mengenal A.S. Hikam. “Oh…jadi, Hikam itu nama orang, to.”

Sandal dan Lift

Masih tentang keluguan warga NU. Kisah ini terjadi di gedung PBNU di Jl. Kramat, Jakarta. Serombongan pengajian ibu-ibu mencoba lift untuk naik ke atas. Saat hendak masuk lift, mereka melepas sandal seperti hendak masuk ke ruangan yang berlantai suci. Ketika lift sampai di atas dan pintu terbuka, mereka panik, “Lo, sandalnya di mana?”

Ketinggalan Kereta

 

Kali ini cerita terjadi pada K.H. Muchit Muzadi (Kakak KH Hazim Muzadi, Ketua PBNU saat ini) dan Gaffar Rahman. Waktu itu, keduanya hendak pulang ke Jawa Timur naik kereta api Bima dari stasiun Kota, Jakarta. Karena jam keberangkatan masih lama, keduanya sepakat menunggu sambil nongkrong di kafetaria di dalam stasiun.

Saat asyik mengobrol, tiba-tiba kereta berangkat. Keduanya segera berlari mengejar. Karena usianya lebih muda, Gaffar Rahman bisa mengejar kereta. Sementara, Kyai Muchit terduduk lemas karena tertinggal. Seorang petugas kereta menghampirinya dan bertanya.

“Bapak naik kereta apa?”

“Kereta Bima,” jawabnya.

“Itu, kan, kereta Bima. Belum berangkat,” tukas petugas sambil menunjuk kereta di sampingnya.

Tidak ada riwayat bagaimana kelanjutan cerita ini. Yang jelas, keluguan para kyai tetap menjadi sumber utama canda dalam tradisi NU.

Kyai Alhamdulillah

 

Ini kisah lain tentang seorang kyai dari Rembang yang dikenal sebagai Kyai Alhamdulillah. Julukan ini didapat karena ia selalu mengucapkan Alhamdulillah, tak peduli kejadian apa pun yang ia alami.

Satu kali, ia pergi bersama rombongan kyai ke Semarang, Jawa Tengah, untuk sebuah acara. Menjelang kota Demak, rombongan kyai ini mendapat tontonan gratis orang-orang yang mandi di sungai di tepi jalan. Melihat tontonan ini, seorang kyai berseru, “Masya Allah”. Sebagian mengucap “Astghfirullah”. Lainnya berujar, “Innalillah”. Akan tetapi kyai yang satu ini (tanpa bermaksud melucu) tetap konsisten dengan dzikirnya, “Alhamdulillah”.

Rambut Sakti

Waktu muda, Gus Mus berguru mengaji di pesantren Lirboyo, Kediri. Satu kali, ia pulang kampung ke Rembang dengan rambut gondrong. Rupanya tak ada gunting yang sanggup memotong rambutnya.

Ayahnya, Kyai Bisri Mustofa, gusar dengan anaknya yang tidak konsentrasi pada belajar mengaji malah mempelajari “kesaktian” macam itu. Alih-alih naik darah, Kyai Bisri hanya mengambil gunting, lalu kres, kres, kres. “Kesaktian” Mustofa Bisri pun berhasil ditaklukkan. Sambil memotong rambut anaknya, Kyai Bisri bilang, “Bapak yang sudah lama ngaji saja, baru jadi kyai. Masak kamu baru ngaji sebentar sudah jadi wali.