Tag

, ,

Membicarakan dunia pesantren memang tak pernah ada habisnya. Tak terhitung banyaknya karya yang mengupas lembaga ini. Tapi pernahkah Anda menemukan buku tentang santri rocker? Agaknya tidak berlebihan jika buku ini merupakan buku pertama yang membahas tentang seni dalam, hal ini musik Rock ala santri.

Karya Fuad Hanif yang berjudul “Rock Mini Band” ini mencoba mengambarkan pesantren dari sisi yang berbeda. Selama ini pesantren hanya akrab dengan sholawatan atau musik rebana. Novel ini justru mencoba berbeda dengan mengisahkan tentang santri rocker.

Alkisah, ada tiga santri yang sangat menyukai musik rock yaitu Jeko, Frengki, dan Luki. Ketatnya peraturan yang ada di pesantren membuat mereka harus mencari cara untuk bisa menyalurkan hobinya tersebut. Tak jarang mereka harus mbolos ngaji atau melompati tembok pesantren agar bisa ngeband.

Di studio tak jauh dari pesantren, ketiga rocker bersarung sering melatih kemampuannya. Kecintaan mereka terhadap musik rock lantas diekpresikan dengan mendirikan sebuah band rock yang mereka bernama “Rock Mini Band”. Tidak sampai di situ saja, mereka juga mengajak salah satu perempuan warga sekitar, Uyun namanya, sebagai wujud keseriusan mereka. Sosok perempuan yang sangat lugu ini berposisi sebagai vokalis.

Kisah Perjalanan band ini sendiri banyak diwarnai pasang surut, kisah percintaan dan kepergok keamanan merupakan salah satu pemicunya. Dalam salah satu kisah dalam buku ini diceritakan ketiga rocker tersebut kepergok oleh seorang Ustad yang sedang keliling pesantren.

Ketika hendak kembali ke pesantren dengan melompati tembok, mereka dikira maling. Tak ayal, mereka hampir dipukuli oleh ustad tersebut. Mereka disidang di kantor keamanan pesantren. Namun, kejadian itu tak membuat mereka jera. Mereka tetap saja menjalankan rutinitas ngeband. Sampai pada akhirnya, Jeko dipanggil Kyai Rahman akibat sering membolos. Kejadian ini membuat Jeko mulai menjauh dari band-nya.

Sang penulis terispirasi dari pengalamannya semasa masih menjadi santri di pesantren Amtsilati Jepara. Tidak heran jika kisah-kisah dalam novel ini pun terasa hidup, nyata.

Melalui novel ini, Hanif mencoba menunjukkan kepada kita bahwa seorang santri tidak selamanya hanya berkutat pada ngaji dan hal-hal yang bersifat akhirat saja. Santri juga bisa ngeband. Dan inilah kelebihan dari novel “Rock Mini Band”.

Kisah-kisah dalam novel setebal 154 halaman ini sangat ispiratif, bukan dari sisi melanggar aturannya tapi sisi dimana sesuatu yang dianggap buruk (ngeband) bisa membuat seseorang menemukan sebuah kebijaksanaan. Seperti kebersamaan dan toleransi diantara personil Rock Mini Band.

Kisah asmara personil Rock Mini Band juga menambah seru novel ini. Selain itu, juga gaya tulisan yang lugas dan jenaka membuat pembaca mudah memahaminya. Sayangnya, novel ini kurang bisa mengambarkan kompleksivitas pesantren secara utuh, sehingga pembaca dari luar lingkungan pesantren kurang mendapat pemahaman tentang pesantren.

Terlepas dari itu, buku ini layak dibaca semua kalangan, baik santri maupun masyarakat umum. Sebab, novel ini telah mampu mendiskripsikan dua hal yang selama ini di pertentangkan, yaitu religiusitas dan modernitas.

 

Judul: Rock Mini Band (Kisah Santri Rocker)

Penulis: Fuad Hanif

Penerbit: Matapena

Terbit: Mei 2011

Tebal: viii + 164 halaman